Tips untuk bidan profesional
Jumat, 21 Oktober 2016
Penyebab dan Cara Mengatasi Anemia
Cara Untuk Mencegah Terjadinya Infeksi Pada Luka
Cara Untuk Mencegah Terjadinya Infeksi Pada Luka
(Cara Untuk Mencegah Terjadinya Infeksi Pada Luka) – Salah satu fungsi Kulit
adalah sebagai penghalang masuknya beberapa macam bakteri kedalam tubuh
yang dilengkapi dengan cairan berupa lendir dan zat-zat kimia. Jika
kulit rusak, misalnya luka atau lecet, kemungkinan bakteri akan masuk. Sel darah putih
keluar dari kapiler untuk melawan bakteri yang masuk. Kalau darah putih
tidak dapat bertahan dan mati bersama-sama dengan rusaknya jaringan
yang berada disekitarnya, menimbulkan bengkak dan membentuk nanah.
Darah putih menghancurkan bakteri dengan cara
menggumpalkan sebelum bakteri masuk kesistem sirkulasi. Jika ada bakteri
yang dapat masuk kedalam pembuluh darah dan ikut dengan aliran darah
segera ditangkap oleh granulosit di dalam kelenjar limf, limpa dan
hati.Darah putih dalam jaringan ini disebut makrofage.Untuk mencegah infeksi, luka harus dirawat dengan baik. Luka perlu diberi obat untuk membunuh bakteri. Selain itu, perlu dibalut dengan kain pembalut yang bersih dan steril atau suci hama sehingga bakteri mati. Demikian pula pakaian, tangan dan alat-alat yang lainnya harus steril.
Luka yang agak dalam perlu diberi suntikan anti tetanus serum (ATS) secepat mungkin karena kemungkinan bakteri tetanus masuk kedalam luka. Bakteri tetanus yang masuk kedalam luka akan mengeluarkan toksin tetanus yang sangat berbahaya karena menyerang sistem saraf dan sukar dilawan oleh antibodi di dalam tubuh. Dengan adanya suntikan ATS, bakteri tetanus idak dapat berkembang biak dan akhirnya binasa.
3 Posisi Menyusui Bayi Kembar
3 Posisi Menyusui Bayi Kembar
1. Posisi Menggendong (The Cradle Hold)
- Peluk kedua bayi dengan kepala ditempatkan pad alekuk siku tangan Anda. Kepala bayi yang menyusu pada payudara kanan, diletakkan pada lekuk siku tangan kanan Anda dan bokongnya pad atelapak tangan kanan Anda. Lakukan sebaliknya bila bayi menyusu pada payudara kiri.
- Arahkan badan bayi, sehingga telinga bayi berada pad asatu garis lurus dengan tangan bayi yang ada di atas (bayi berbaring menyamping)
- Kedua kepala bayi disangga dengan telapak tangan Anda, sementara tubuh mereka diselipkan di bawah kedua tangan Anda (seperti memegang bola atau tas tangan). Bila menyusui bayi pad apayudara kanan, maka Anda akan memegangnya dengan tangan kanan. Demikian pula sebaliknya.
- Letakkan tangan Anda di atas bantal pada pangkuan Anda atau di samping, lalu sangga bahu, leher dan kepala kedua bayi Anda dengan kedua tangan. Arahkan mulut bayi kea rah putting susu. Biarkan kakinya menjulur ke belakang.
- Anda dapat menyusui salah satu bayi Anda dengan posisi menggendong, dan bayi Anda yang lain dengan posisi menyangga kepala. Lakukanlah secara bergantian.
Anatomi panggul dan macam-macam panggul
Anatomi panggul dan macam-macam panggul
TULANG-TULANG PANGGUL
Tulang-tulang panggul terdiri dari
1) os koksa yang terdiri a) os ilium,b) os iskium,c) os pubis
2) os sakrum
3) os koksigis
Tulang-tulang panggul terdiri dari
1) os koksa yang terdiri a) os ilium,b) os iskium,c) os pubis
2) os sakrum
3) os koksigis
![[Picture1MMMMMMM.jpg]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiPc2rhxR1B1jOLFfNdjJs1EeflRWkB3b8pWZE4YsHkxGXyBOLPrJdvKhNeuTmF4An1waQNqdtIp8zH1RO-G7bi3HQ2xWN1PyJggAuT5iBoxxbIRHYZtqN2Fgg93bTEVp0RGwBsiVA4JZE/s400/Picture1MMMMMMM.jpg)
Pada seorang wanita hamil yang bergerak terlampau cepat dari duduk langsung berdiri, sering dijumpai pergeseran yang lebar pada artikulasio sakro-iliak. Hal demikian dapat menimbulkan rasa sakit di daerah artikulasio tersebut. Juga pada simfisis tidak jarang dijumpai simfisiolisis sesudah partus atau ketika tergelincir, karena longgarnya hubungan di simfisis. Hal demikian dapat menimbulkan rasa sakit atau gangguan jalan. Secara fungsional panggul terdiri dari 2 bagian yang disebut pelvis mayor, dan pelvis minor.Pelvis mayor adalah bagian pelvis yang terletak di atas linea terminalis, disebut pula false pelvis. Bagian yang terletak di bawah linea terminalis disebut pelvis minor true pelvis . Bagian akhir ini adalah bagian yang mempunyai peranan penting dalam obstetri dan harus dapat dikenal dan dinilai sebaik-baiknya untuk dapat meramalkan dapat-tidaknya bayi melewatinya. Bentuk pelvis minor ini menyerupai saluran yang mempunyai sumbu melengkung ke depan (sumbu Carus) Sumbu ini secara klasik adalah garis yang menghubungkan titik persekutuan antara diameter transversa dan konjugata vera pada pintu atas panggul dengan titik-titik sejenis di Hodge II, III, dan IV. Sampai dekat Hodge III sumbu itu lurus, sejajar dengan sakrum, untuk seterusnya melengkung ke depan, sesuai dengan lengkungan sakrum. Hal ini penting untuk diketahui bila kelak mengakhiri persalinan dengan cunam agar supaya arah penarikan cunam itu disesuaikan dengan jalannya sumbu jalan-lahir tersebut.
RONGGA PANGGUL
Rongga panggul dibagi atas dan bawah oleh bidang apertura pelvis superior (dalam obstetri sering disebut sebagai pintu atas panggul, PAP).
Apertura pelvis superior dibentuk oleh :
- promontorium os sacrum di bagian posterior
- linea iliopectinea (linea terminalis dan pecten ossis pubis) di bagian lateral
-symphisis os pubis di bagian anterior
Inklinasi panggul adalah sudut yang terbentuk antara bidang yang melalui apertura pelvis superior dengan bidang horisontal (pada keadaan normal sebesar 60 derajat).
Bagian di atas / kranial terhadap apertura pelvis superior disebut sebagai pelvis spurium (pelvis major), merupakan bagian bawah / kaudal daripada rongga abdomen.
Makna obstetriknya adalah untuk menahan alat-alat dalam rongga perut dan menahan uterus yang berisi fetus yang terus bertambah besar secara bermakna mulai usia kehamilan bulan ketiga.Bagian di bawah / kaudal terhadap apertura pelvis superior disebut sebagai pelvis verum (pelvis minor), merupakan rongga panggul yang sangat menentukan kapasitas untuk jalan lahir bayi pada waktu persalinan (verum=sebenarnya, disebut juga true pelvis).
Dinding-dinding rongga panggul
1. dinding anterior : pendek, dibentuk oleh corpus, rami dan symphisis ossium pubis
2. dinding posterior : dibentuk oleh permukaan ventral os sacrum dan os coccygis serta muskulus pyriformis yang membentang pada permukaan ventral os sacrum dan diliputi oleh fascie pelvis.
3. dinding lateral : dibentuk oleh bagian os coxae di bawah apertura pelvis superior, membrana obturatoria, ligamentum sacrotuberosum, ligamentum sacrospinosum, dan muskulus obturator internus dengan fascia obturatoria.
4. dinding inferior / dasar panggul : dibentuk oleh diaphragma pelvis (mm.levator ani, mm coccygei, fascia diaphragmatis pelvis, trigonum urogenitale) yang berfungsi menahan alat-alat rongga panggul. Diaphragma pelvis membagi lagi rongga panggul bagian bawah menjadi bagian rongga panggul utama (bagian atas diaphragma pelvis) dan bagian perineum (bagian bawah diaphragma pelvis).
PELVIS VERUM
Mempunyai pintu masuk yaitu apertura pelvis superior, dan pintu keluar apertura pelvis inferior (dalam obstetri disebut sebagai pintu bawah panggul, PBP).
Ada 4 tipe panggul dasar / karakteristik, menurut klasifikasi Caldwell-Moloy :
1. tipe gynaecoid : bentuk pintu atas panggul seperti ellips melintang kiri-kanan, hampir mirip lingkaran. Diameter transversal terbesar terletak di tengah. Dinding samping panggul lurus. Merupakan jenis panggul tipikal wanita (female type).
2. tipe anthropoid : bentuk pintu atas panggul seperti ellips membujur anteroposterior. Diameter transversal terbesar juga terletak di tengah. Dinding samping panggul juga lurus. Merupakan jenis panggul tipikal golongan kera (ape type).
3. tipe android : bentuk pintu atas panggul seperti segitiga. Diameter transversal terbesar terletak di posterior dekat sakrum. Dinding samping panggul membentuk sudut yang makin sempit ke arah bawah. Merupakan jenis panggul tipikal pria (male type).
4. tipe platypelloid : bentuk pintu atas panggul seperti "kacang" atau "ginjal". Diameter transversal terbesar juga terletak di tengah. Dinding samping panggul membentuk sudut yang makin lebar ke arah bawah.
Pada banyak kasus, bentuk panggul merupakan tipe campuran.

BEBERAPA UKURAN PANGGUL WANITA YANG MEMILIKI MAKNA/ KEPENTINGAN OBSTETRIK
Diameter anteroposterior pintu atas panggul (conjugata interna, conjugata vera)
Jarak antara promontorium os sacrum sampai tepi atas symphisis os pubis. Tidak dapat diukur secara klinik pada pemeriksaan fisis.
apertura pelvis inferior merupakan dua segitiga yang bersekutu pada alasnya (pada garis yanSecara klinik dapat diukur conjugata diagonalis, jarak antara promontorium os sacrum dengan tepi bawah symphisis os pubis, melalui pemeriksaan pelvimetri per vaginam.
Diameter obliqua pintu atas panggul Jarak dari sendi sakroiliaka satu sisi sampai tonjolan pektineal sisi kontralateralnya (oblik/menyilang). Diameter transversa pintu atas panggul Diameter terpanjang kiri-kanan dari pintu atas panggul. Bukan sungguh "diameter" karena tidak melalui titik pusat pintu atas panggul. Diameter / distantia interspinarum pada rongga panggul Jarak antara kedua ujung spina ischiadica kiri dan kanan.Diameter anteroposterior pintu bawah panggul Jarak antara ujung os coccygis sampaipinggir bawah symphisis os pubis. Diameter transversa pintu bawah panggul Jarak antara bagian dalam dari kedua tuberositas os ischii.
Diameter sagitalis posterior pintu bawah panggul Jarak antara bagian tengah diameter transversa sampai ke ujung os sacrum.
Pintu atas panggul (pelvic inlet)
Diameter transversa (DT) + 13.5 cm. Conjugata vera (CV) + 12.0 cm. Jumlah rata-rata kedua diameter minimal 22.0 cm.
Pintu tengah panggul (mid pelvis) Distansia interspinarum (DI) + 10.5 cm. Diameter anterior posterior (AP) + 11.0 cm. Jumlah rata-rata kedua diameter minimal 20.0 cm.
Pintu bawah panggul (pelvic outlet) Diameter anterior posterior (AP) + 7.5 cm. Distansia intertuberosum + 10.5 cm. Jumlah rata-rata kedua diameter minimal 16.0 cm. Bila jumlah rata-rata ukuran pintu-pintu panggul tersebut kurang, maka panggul tersebut kurang sesuai untuk proses persalinan pervaginam spontan.
Perubahan Fisiologis Kehamilan Trimester I
Perubahan Fisiologis Kehamilan Trimester I

Perubahan-perubahan Fisiologis Kehamilan Trimester I
Kehamilan mempengaruhi tubuh wanita secara keseluruhan dengan
menimbulkan perubahan fisiologis yang pada hakekatnya terjadi di seluruh
sistem organ. Tubuh seorang wanita hamil harus:
– Melindungi embrio/janin yang sedang berkembang
– Memberikan semua yang diperlukan embrio/janin
– Beradaptasi untuk menyediakan tempat bagi pertumbuhan embrio/janin
– Mempersiapkan pemberian makanannya ketika janin lahir
Sebagian besar perubahan pada tubuh seorang wanita hamil bersifat
temporer dan kebanyakan dipengaruhi oleh kerja hormonal (Helen, 2001)
Beberapa perubahan fisiologis yang timbul selama masa hamil dikenal
sebagai tanda kehamilan. Ada tiga kategori yaitu presumsi, kemungkinan,
dan pasti. Presumsi yaitu perubahan yang dirasakan wanita hamil
(misalnya amenore, keletihan, perubahan payudara). Kemungkinan yaitu
perubahan yang diobservasi pemeriksa (misalnya tanda Hegar, ballottement, tes kehamilan. Pasti misalnya ultrasonografi, bunyi denyut jantung janin (Bobak, dkk., 2005).
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, kehamilan akan mempengaruhi
sistem-sistem organ pada tubuh. Berikut akan dijelaskan
perubahan-perubahan pada sistem organ wanita hamil khususnya pada
trimester I:
1. Sistem endokrin
Selama minggu-minggu pertama, korpus luteum dalam ovarium
menghasilkan estrogen dan progesteron. Fungsi utamanya pada stadium ini
adalah untuk mempertahankan pertumbuhan desidua dan mencegah pelepasan
serta pembebasan desidua tersebut.
2. Sistem reproduksi
Tidak diragukan lagi organ-organ pada sistem reproduksi mengalami
perubahan dalam masa hamil. Mulai dari uterus, vagina, ovarium, dan
lain-lain.
1) Uterus
Pertumbuhan uterus yang fenomenal pada trimester pertama berlanjut
sebagai respon terhadap stimulus kadar hormon estrogen dan progesteron
yang tinggi. Pembesaran terjadi akibat:
– peningkatan vaskularisasi dan dilatasi pembuluh darah
– hiperpalsia (produksi serabut otot dan jaringan
fibroelastis baru) dan hipertrofi (pembesaran serabut otot dan jaringan
fibroelastis yang sudah ada)
– perkembangan desidua
Selain bertambah besar uterus juga mengalami perubahan berat,
bentuk, dan posisi. Dinding-dinding otot menguat dan menjadi lebih
elastis. Pada saat konsepsi, uteris berbentuk seperti buah pir terbalik
Selama minggu-minggu awal kehamilan, peningkatan aliran darah
uterus dan limfe mengakibatkan edema dan kongesti panggul. Akibatnya,
uterus, serviks, dan istmus melunak secara progresif dan serviks menjadi
agak kebiruan (tanda Chadwick, tanda kemungkinan kehamilan). Pada
sekitar minggu ke-7 dan ke-8, terlihat pola pelunakan uterus sebagai
berikut: istmus melunak dan dapat ditekan (tanda Hegar), serviks melunak
(tanda Goodell), dan fundus pada serviks mudah fleksi (tanda McDonald).
Ini adalah tanda kemungkinan kehamilan. Setelah minggu ke-8, korpus
uteri dan serviks melunak dan membesar secara keseluruhan (Bobak, dkk.,
2005)
2) Vagina
Pada awal kehamilan, vagina dan serviks memiliki warna yang hampir
biru (normalnya, warna bagian ini pada wanita yang tidak hamil adalah
merah muda). Warna kebiruan ini disebabkan oleh dilatasi vena yang
terjadi akibat kerja hormon progesteron. Sekresi vagina yang normalnya
bersifat asam meningkat secara bermakna (Helen, 2001).
Peningkatan keasaman (pH) mengakibatkan wanita hamil lebih rentan
terkena infeksi vagina, khususnya infeksi jamur. Diet yang mengandung
gula dalam jumlah besar dapat membuat lingkungan vagina cocok untuk
infeksi jamur (Bobak, dkk., 2005)
Stimulasi estrogen menyebabkan deskuamasi (eksfoliasi) sel-sel
vagina yang kaya glikogen. Sel-sel yang tanggal ini membentuk rabas
vagina yang kental dan berwarna keputihan, disebut leukore (Bobak, dkk.,
2005)
3) Payudara
Perubahan pada payudara yang membawa kepada fungsi laktasi
disebabkan oleh peningkatan kadar estrogen, progesteron, laktogen
plasental, dan prolaktin. Stimulasi hormonal ini menimbulkan proliferasi
jaringan, dilatasi pembuluh darah dan perubahan sekretorik pada
payudara. Sedikit pembesaran pada payudara, peningkatan sensitivitas dan
rasa geli mungkin dialami, khususnya oleh primigravida, pada kehamilan
minggu ke-4 (Helen, 2001).
Sensitivitas payudara bervariasi dari rasa geli ringan sampai nyeri
yang tajam. Puting susu dan areola menjadi lebih berpigmen, terbentuk
warna merah muda sekunder pada areola, dan puting susu menjadi lebih
erektil. Hipertrofi kelenjar sebasea yang muncul di areola primer dan
disebut tuberkel Montgomery dapat terlihat di sekitar puting susu.
Kelenjar sebasea ini mempunyai peran protektif sebagai pelumas puting
susu. Kelembutan puting susu terganggu, jika lemak pelindung ini dicuci
dengan sabun (Bobak, dkk., 2005).
Peningkatan suplai darah membuat pembuluh darah di bawah kulit
berdilatasi. Pembuluh darah yang sebelumnya tidak terlihat, sekarang
terlihat, seringkali tampak sebagai jalinan jaringan biru di bawah
permukaan kulit. Kongesti vena di payudara lebih jelas terlihat pada
primigravida (Bobak, dkk., 2005)
3. Sistem kardiovaskuler
Penyesuaian maternal terhadap kehamilan melibatkan perubahan sistem
kardiovaskuler yang ekstensif, baik aspek anatomis maupun fisiologis.
Adaptasi kardiovaskuler melindungi fungsi fisiologi normal wanita,
memenuhi kebutuhan metabolik tubuh saat hamil, dan menyediakan kebutuhan
untuk perkembangan dan pertumbuhan janin.
Adaptasi kehamilan pada sistem kardiovaskuler meliputi hemodilusi, tekanan darah, dan daya pembekuan darah (Helen, 2001).
1) Hemodilusi
Volume darah selama kehamilan akan meningkat sebanyak 40-50% untuk
memenuhi kebutuhan bagi sirkulasi plasenta. Peningkatan volume mulai
terjadi pada sekitar minggu ke-10 sampai ke-12. Peningkatan volume
merupakan mekanisme protektif. Keadaan ini sangat penting untuk siistem
vaskular yang mengalami hipertrofi akibat pembesaran uterus, hidrasi
jaringan janin dan ibu yang adekuat saat berdiri atau terlentang, dan
cadangan cairan untuk mengganti darah yang hilang selama proses
melahirkan dan puerperium (Bobak, dkk., 2005).
Volume plasma meningkat lebih banyak daripada volume sel darah
merah. Karena itu, terjadi keadaan hemodilusi dengan penurunan kadar
hemoglobin yang menyolok. Keadaan ini disebut anemia fisiologis
kehamilan dan mungkin menyebabkan keluhan mudah lelah serta perasaan
akan pingsan seperti yang dialami sebagian wanita hamil (Helen, 2001).
2) Tekanan darah
Peningkatan curah jantung terjadi akibat peningkatan volume darah.
Jantung harus memompa dengan kekuatan yang lebih besar, khususnya pada
saat menjelang aterm, sehingga terjadi sedikit dilatasi. Progesteron
akan menimbulkan relaksasi otot-otot polos dan menyebabkan dilatasi
dinding pembuluh darah yang akan mengimbangi peningkatan kekuatan dari
jantung. Dengan demikian, tekanan darah harus mendekati nilai pada
keadaan tidak hamil. Walau demikian, seorang wanita hamil cenderung
mengalami hipotensi supinasio jika berbaring terlentang, karen vena kava
inferior akan tertekan oleh isi uterus (Helen, 2001).
3) Daya pembekuan darah
Daya pembekuan darah atau koagubilitas mengalami peningkatan selama
kehamilan. Hal ini dapat berakibat terjadinya trombosis vena. Jika
koagubilitas ini tidak berhasil ditingkatkan, maka pada saat melahirkan
akan terdapat ancaman perdarahan yang hebat (Helen, 2001).
4. Sistem integumen
Kelenjar hipofise anterior yang dirangsang oleh kadar estrogen yang tinggi akan meningkatkan sekresi hormon MSH (Melanophore Stimulating Hormone).
Akibat yang ditimbulkan oleh peningkatan kadar MSH bervariasi menurut
warna kulit alami wanita tersebut. Pigmentasi yang lebih gelap terjadi
pada wajah (kloasma), garis tengah abdomen (dari bagian atas umbilikus
hingga rambut pubis: linea nigra), puting dan areola mammae (Helen,
2001)
5. Sistem pernafasan
Adaptasi ventilasi dan struktural selama masa hamil bertujuan
menyediakan kebutuhan oksigen ibu dan janin. Kebutuhan oksigen ibu
meningkat sebagai respon terhadap percepatan laju metabolik dan
peningkatan kebutuhan oksigen uterus dan payudara. Janin memerlukan
oksigen dan suatu cara membuang karbondioksida.
Uterus yang membesar akan mendorong diafragma ke atas sehingga
mengubah bentuk toraks namun tidak mengurangi kapasitas paru. Frekuensi
respirasi meningkat untuk mendapatkan lebih banyak oksigen yang
diperlukan. Keadaan ini dapat menimbulkan sedikit hiperventilasi.
Selama masa hamil, perubahan pada pusat pernafasan menyebabkan
penurunan ambang karbondioksida. Progesteron dan estrogen diduga
menyebabkan peningkatan sensitivitas pusat pernafasan terhadap
karbondioksida. Beberapa wanita mengeluh mengalami dispnea saat
istirahat.
6. Sistem perkemihan
Perubahan pada traktus urinarius disebabkan oleh faktor hormonal
dan mekanis. Dengan pembesaran yang terjadi pada bulan-bulan pertama
kehamilan, uterus akan lebih banyak menyita tempat dalam panggul. Dengan
demikian, tempat bagi pembesaran kandung kemih akan berkurang dan
tekanan pada kandung kemih semakin sering dirasakan. Hal tersebut
menyebabkan meningkatnya frekuensi berkemih (Helen, 2001).
7. Sistem pencernaan
Pada bulan-bulan awal masa kehamilan, sepertiga dari wanita hamil
mengalami mual dan muntah. Penyebab yang pasti tidak diketahui, tetapi
kemungkinan besar keadaan ini merupakan reaksi terhadap peningkatan
kadar hormon yang mendadak. Jika berlangsung melebihi 14 minggu atau
bila berat (hiperemesis), maka keadaan ini dianggap abnormal
Cara Memerah, Menyimpan, dan Memberikan ASI Perahan (ASIP)
Cara Memerah, Menyimpan, dan Memberikan ASI Perahan (ASIP)
Setelah Ibu paham persiapan apa yang
perlu dilakukan sebelum kembali bekerja, langkah selanjutnya adalah
paham bagaimana cara memerah ASI, menyimpan, dan memberikannya agar si
kecil tetap mendapat ASI yang berkualitas.
A. CARA MEMERAH ASI
Secara dasar, prinsip memerah ASI hampir
sama dengan mengeluarkan pasta gigi. Bila kita hanya menekan ujung pasta
gigi, tentu pastanya tak akan keluar, jadi harus menekan agak ke
belakang. Bila ASI tak keluar banyak, kemungkinan teknik ibu salah.
Mungkin cara memerah ASI-nya seperti melakukan massage payudara. Cara
ini tak akan mengeluarkan ASI, karena yang ditekan pada pijat payudara
adalah ‘pabrik’ ASI bukan ‘gudang’nya. Ibu tak bisa langsung
mengeluarkan ASI dari ‘pabrik’ tapi harus melalui ‘gudang’ dulu. Jadi,
bila tekniknya sudah benar, lama-kelamaan memerah ASI akan menjadi
pekerjaan biasa. Waktu yang dibutuhkan pun sekitar 20- 30 menit saja,
tapi susu yang terkumpul bisa mencapai 500 ml.
Namun demikian, ada beberapa aturan yang
penting diperhatikan sebelum sebelum Ibu memberikan ASI perah (ASIP)
pada si bayi. Pertama, sebelum bayi berusia 4 bulan, sebaiknya ASIP
TIDAK diberikan menggunakan dot dulu karena bayi akan mengalami bingung puting.
Maksudnya, ia akan susah untuk kembali menyusu dengan benar pada
payudara ibu. Kedua, bila Ibu sedang bersama bayi, bayi harus menyusu
langsung pada Ibu, jangan memberikan ASIP. Memerah ASI bukanlah hal
yang sulit, bahkan tidak selalu membutuhkan alat khusus atau pompa ASI.
Cukup dengan pijitan dua-tiga jari sendiri, ASI bisa keluar lancar. Hal
ini memang membutuhkan waktu, yakni masing-masing payudara berkisar 15
menit. ASI ini bisa disimpan lalu diberikan untuk bayi keesokan harinya.
- Memerah dengan Jari
Cara memerah ASI dengan jari ini amat
sederhana dan tidak perlu biaya. Sebagai langkah awal Ibu perlu memahami
bahwa payudara terdiri atas tiga komponen yang prinsipil, yaitu
“pabrik” (di daerah berwarna putih), saluran, dan “gudang” (di daerah
warna cokelat atau areola) ASI. Ketiganya seperti bejana berhubungan.
ASI diproduksi di ‘pabrik’nya yang berbentuk seperti kumpulan buah
anggur. Setiap ‘pabrik’ ASI dilalui otot-otot. Bila otot-otot ini
mengkerut, ia akan memompa ASI ke salurannya menuju ‘gudang’. Agar
pabrik memproduksi ASI lagi, syarat utamanya ASI di ‘gudang’ harus habis
lebih dulu. Bila ‘gudang’ kosong, barulah ‘pabrik’ akan mengisinya
kembali, begitu seterusnya. Berikut adalah cara memerah ASI dengan jari
- Letakkan tangan kita di salah satu payudara, tepatnya di tepi areola. Tempatkan ibu jari di atas kalang payudara dan jari telunjuk serta jari tengah di bawah sekitar 2,5 -3,8 cm di belakang puting susu membentuk huruf C. Anggaplah ibu jari berada pada jam 12, dua jari lain berada di posisi pukul jam 6. Ibu jari dan jari telunjuk serta jari tengah saling berhadapan. Jari-jari diletakkan sedemikian rupa sehingga “gudang” ASI berada di bawahnya.
- Tekan lembut ke arah dada tanpa memindahkan posisi jari-jari tadi. Payudara yang besar dianjurkan untuk diangkat lebih dulu. Kemudian ditekan ke arah dada.
- Buatlah gerakan menggulung dengan arah ibu jari dan jari-jari ke depan untuk memerah ASI keluar dari gudang ASI yang terdapat di bawah kalang payudara di belakang puting susu.
- Ulangi gerakan-gerakan tersebut (1,2,3) sampai aliran ASI berkurang. Kemudian pindahkan lokasi ibu jari ke posisi lain (misal arah jam 9 dan jari-jari ke arah jam 3, lakukan kembali gerakan memerah seperti tadi.
- Lakukan pada kedua payudara secara bergantian. Begitu tampak ASI memancar dari puting susu, itu berarti gerakan tersebut sudah benar dan berhasil menekan gudang ASI. Letakkan cangkir bermulut lebar yang sudah disterilkan di bawah payudara yang diperah.

Cara memerah ASI yang tidak mengeluarkan ASI dan tidak dianjurkan
- Menekan puting susu – memijat puting dengan 2 jari, dapat menyebabkan lecet
- Mengurut – mendorong dari pangkal payudara, dapat menyebabkan kulit nyeri
- Menarik puting dan payudara – dapat menyebabkan kerusakan jaringan
Seluruh prosedur persiapan dan pemerahan dengan tangan membutuhkan waktu sekitar 20-30 menit, meliputi:
- Massage, stroke, dan shake. Perah kedua payudara selama 5-7 menit tiap payudara.
- Massage, stroke, dan shake. Perah kedua payudara selama 3-7 menit tiap payudara.
- Massage, stroke, dan shake. Perah kedua payudara selama 2-3 menit tiap payudara
Catatan: Teknik memerah
ASI yang disarankan adalah teknik perah Marmet yang diciptakan oleh
Chele Marmet, seorang konsultan laktasi, direktur the Lactation
Institute di West Los Angeles, USA yang bisa dilihat disini.
Menggunakan Pompa ASI
Jika menggunakan pompa, alat pompa ASI
elektrik adalah cara bantu pemerahan ASI ASI yang paling baik dan
efektif. Hanya saja, harganya relatif mahal. Cara lain yang lebih
terjangkau bila punya dana lebih, yaitu menggunakan poma dengan
mekanisma piston atau pompa berbentuk suntikan. Prinsip kerja alat ini
memang seperti suntikan, hingga memiliki keunggulan, yaitu setiap
jaringan pompa mudah sekali dibersihkan dan tekanannya bisa diatur.
Sayangnya, pompa-pompa ASI yang ada di Indonesia jarang sekali berbentuk
suntikan, lebih banyak berbentuk corong dan bohlam (squeeze and bulb). Bentuk squeeze dan bulb
tak pernah dianjurkan banyak ahli laktasi dan ASI. Bentuk pompa seperti
ini sulit dibersihkan bagian belakang yang bentuknya menyerupai bohlam
karena terbuat dari karet hingga tak bisa disterilisasi. Selain itu,
tekanannya tak bisa diatur, hingga tak bisa sama/rata.
Gambar 2. Contoh Berbagai Pompa ASI
B. CARA MENYIMPAN
Cara terbaik untuk menyimpan ASIP adalah menggunakan botol dari stainless steel
(baja antikarat), namun ini tidak banyak dijual. Pilihan terbaik kedua
adalah botol yang terbuat dari gelas (kaca), dan terbaik ketiga botol
plastik. Kebanyakan ibu lebih menyukai botol yang terbuat dari plastik
demikian juga halnya dengan rumah sakit/klinik bersalin, karena plastik
tidak mudah pecah. Untuk pilihan lebih ekonomis, saat ini telah tersedia
botol kaca dengan kapasitas 50-200 ml. Apapun jenis botolnya, sebaiknya
memiliki tutup yang kencang/rapat. Botol berwarna-warni sebaiknya
tidak digunakan karena zat warnanya bisa masuk ke dalam ASI.
Pilihan terakhir adalah menyimpan ASI
perah di dalam plastik yang lembek atau kantong susu, sebab akan banyak
zat-zat di dalam ASI yang akan tertinggal (menempel) pada dinding
plastik. Menyimpan ASI di dalam kantong susu bisa menimbulkan beberapa
masalah. Susu bisa menempel pada sisi kantong sehingga jumlah yang
diberikan kepada bayi akan berkurang. Kantong susu juga lebih peka
terhadap kontaminasi akibat kebocoran. Beberapa produsen pompa ASI
membuat kantong susu yang nyaman untuk digunakan dan terbuat dari
plastik yang lebih tebal tetapi harganya mahal. Jika hendak menggunakan
kantong, sebaiknya digunakan 2 lapis kantong lalu disimpan di dalam
wadah plastik yang tertutup rapat, baru masukkan ke dalam freezer. Hal
ini akan membantu mengurangi terjadinya robekan pada kantong. Pada saat
menghangatkan, sebaiknya batas atas air tidak melebihi kantong sehingga
air tidak masuk ke dalam kantong. Jika air yang digunakan untuk
menghangatkan tampak berawan/keruh, berarti telah terjadi kebocoran dan
ASI tersebut harus dibuang.
Berilah label pada setiap kemasan ASI
yang mencantumkan tanggal pemerahan ASI dan gunakan terlebih dahulu stok
yang terlama. Jika bayi Ibu dirawat di RS, pastikan bahwa pada label
juga tertera nama anda/bayi Ibu dengan jelas, sehingga ASI tidak
tertukar.
Untuk bayi kurang dari 6 minggu,
sebaiknya ASI disimpan dalam botol sebanyak 30 – 60 ml, sehingga waktu
yang diperlukan untuk menghangatkan tidak terlalu lama dan ASI tidak
banyak terbuang. Untuk bayi yang lebih besar, jumlah ASI yang disimpan
perbotolnya bisa disesuaikan dengan jumlah susu yang biasanya diminum.
Tetapi akan lebih baik jika tetap menyimpan ASI dalam jumlah yang lebih
kecil, kalau sewaktu-waktu bayi anda menginginkan susu lebih atau untuk
selingan.
Hingga saat ini belum banyak penelitian
mengenai ASI yang telah disimpan, dihangatkan dan baru sebagian diminum
oleh bayi. Akan lebih aman untuk memberikan ASI yang sebelumnya telah
disimpan dalam waktu 1-2 jam setelah dihangatkan. Dan jika ASI masih
tersisa, sebaiknya dibuang dan tidak disimpan lagi.
Setelah diperah, ASI harus di simpan
dengan baik agar dapat bertahan lama. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat
dalam tabel petunjuk penyimpanan ASI di bawah. Perlu diperhatikan,
umumnya para dokter tidak menyarankan penyimpanan ASI di freezer. Sebab
ASI yang telah disimpan di freezer akan mengalami perubahan dalam hal
jumlah imunoglobulin, yaitu protein molekul yang berfungsi sebagai daya
tahan tubuh, karena ada yang mati akibat kedinginan. Lebih dianjurkan
untuk memasukkan ASI ke dalam termos dan lemari es. ASIP yang dimasukkan
ke termos dan lemari es tak mengalami perubahan komposisi gizi sama
sekali. Hanya mungkin warna dan bentuknya saja yang berubah.
Tabel Petunjuk Penyimpanan ASI
Tempat penyimpanan | Suhu | Lama Penyimpanan |
Dalam ruangan (ASIP segar) | 190 – 260 C | 6 – 8 jam di ruangan ber AC atau 4 jam di ruangan tanpa AC |
Dalam ruangan (ASIP beku yang telah dicairkan) | 190 – 260 C | 4 jam |
Kulkas (ASIP segar) | < 40 C | 2 – 3 hari |
Kulkas (ASIP beku yang telah dicairkan) | < 40 C | 24 jam |
Freezer (lemari es 1 pintu | 00 sampai -180 | 2 minggu |
Freezer (lemari es 2 pintu) | -180 sampai -200C | 3 – 4 bulan |
Deep Freezer | Suhu stabil di -200C atau kurang | 6 – 12 bulan |
Gambar 3. ASIP yang disimpan di kulkas (courtesy to my dear friend, Evri Retno Utari)
Ringkasan:
- Taruh ASI dalam kantung plastik food grade, botol kaca, atau wadah plastik untuk makanan atau yang bisa dimasukkan dalam microwave, wadah melamin, gelas, cangkir keramik.
- Beri tanggal dan jam pada masing-masing wadah.
- Dinginkan dalam kulkas. Simpan sampai batas waktu yang diijinkan.
- Jika hendak dibekukan, masukkan dulu dalam refrigerator selama semalam, baru masukkan ke freezer (bagian kulkas untuk membekukan makanan), gunakan sebelum batas maksimal yang diijinkan.
Selanjutnya, ketika ingin memberikan ASIP
pada si kecil, kita harus menghangatkannya dulu. Namun jangan
dipanaskan di atas api atau microwave/oven karena panas tinggi
mengakibatkan beberapa enzim penyerapan mati. Mula-mula letakkan botol
ASI ke dalam air dingin, kemudian secara perlahan-lahan beri air hangat
sampai ASI mencair (suhu airnya sama dengan suhu air yang biasa kita
gunakan untuk mandi atau suhu tubuh). Jika ingin mencairkan ASIP beku,
letakkan botol ASIP beku ke dalam kulkas semalam sebelumnya, esoknya
baru dicairkan dan dihangatkan. Jangan membekukan kembali ASI yang sudah
dipindah ke kulkas. Lama penghangatan tergantung suhu ASI, tapi
prinsipnya buatlah suhu ASI seperti suhu tubuh karena akan menyerupai
ASI yang dikeluarkan langsung. Setelah dihangatkan bisa langsung
diberikan pada bayi.
Cara pemberiannya JANGAN menggunakan botol susu dan dot, melainkan disuapi pakai sendok atau cangkir.
Kalau si kecil langsung menyusu dari botol, lama-lama ia jadi “bingung
puting”. Jadi, ia hanya menyusu di ujung puting seperti ketika menyusu
dot. Padahal, cara menyusu yang benar adalah seluruh areola ibu masuk ke
mulut bayi. Jadi, kalau si kecil sudah “bingung puting”, tak heran bila
ia gagal mengeluarkan ASI di “gudang”nya. Salah satu tanda bayi
mengalami bingung puting adalah bayi menolak menyusu langsung dari Ibu.
Selain itu bila menyusu mulutnya mencucu seperti minum dari dot, dan
ketika menyusu bayi sebentar-bentar melepas hisapannya. Hasilnya,
payudara Ibu lecet. Akhirnya, si kecil jadi enggan menyusu langsung dari
payudara lantaran ia merasa betapa sulitnya mengeluarkan ASI. Sementara
kalau menyusu dari botol, hanya dengan menekan sedikit saja dotnya,
susu langsung keluar. (Cttn: Beberapa buku dan situs
menyusui mem’boleh’kan pemberian ASIP dengan botol. Untuk mnghindari
bingung puting perlu diperhatikan rambu-rambunya yang dapat dilihat disini)
Ibu tidak perlu merasa cemas bayi
kekurangan ASI berapapun jumlah ASI perah yang dikeluarkan. Memang, pada
awalnya bayi akan gelisah dengan jumlah yang mungkin lebih sedikit dari
biasanya, tapi bayi akan cepat beradaptasi. Pada hari keempat, bayi
akan terbiasa. Ia akan meminum seberapapun ASI yang tersedia. Kalau
ditinggali 500 ml, akan diminum; begitu juga dengan 300 ml, bahkan 200
ml. Namun ketika ibunya datang, ia akan minum habis-habisan. Jadi, bayi
tidak akan akan kekurangan ASI.
Ringkasan:
- Ambil ASI berdasarkan waktu pemerahan (yang pertama diperah yang diberikan lebih dahulu) atau yang paling segar (baik metode First In First Out/FIFO maupun Last In First Out/LIFO, perhatikan masa kadaluarsa)
- Jika ASI beku, cairkan di bawah air hangat mengalir. Untuk menghangatkan, tuang ASI dalam wadah, tempatkan di atas wadah lain berisi air hangat.
- Kocok dulu sebelum mengetes suhu ASI. Lalu tes dengan cara meneteskan ASI di punggung tangan. Jika terlalu panas, angin-anginkan agar panas turun.
- Jangan gunakan microwave atau oven untuk menghangatkan karena akan menghancurkan nutrisi dan bahan-bahan kekebalan yang terkandung dalam ASI.
- Bagaimana dengan ASIP beku yg telah dicairkan ? (lihat tabel)
- bisa bertahan di suhu ruang maksimal 4 jam,
- jika belum dihangatkan, bisa dikembalikan ke lemari es dan bertahan 24 jam,
- jangan dibekukan kembali
- Bagaimana dengan ASIP yg sudah direndam air hangat tapi belum diminum?
- bisa dikembalikan ke lemari es, tetapi hanya bertahan 4 jam
- jangan dibekukan kembali
- Bagaimana dengan yang sudah diminum bayi (terkena mulut bayi)? Dibuang saja
Tips Pemberian lewat Cangkir (cup)
- Sediakan cangkir kecil (khususnya kaca), atau khusus cup feeder bayi.
- Setelah ASIP dicairkan, tuang ke cangkir dan minumkan ke bayi. Jangan khawatir tumpah-tumpah, untuk menampung tumpahannya sediakan dengan mangkuk kecil di bawah lehernya, untuk diminumkan lagi berulang-ulang sampai habis.
- Cara memberikan ASIP adalah dengan memiringkan gelas sampai bibir bayi menyentuh permukaan ASI. Bayi akan mengecap-ngecap dan menghisap, setelah itu baru dinaikkan sedikit-sedikit agar bayi bisa terus meminum ASInya. Jangan menuangkan isi gelas ke dalam mulut bayi, tindakan ini akan membuat bayi tersedak karena tidak siap.
- Latihan memberikan ASIP ini perlu kesabaran, paling tidak latihan dmulai seminggu sebelum masuk kerja. Sebaiknya pengasuhnya nanti yang belajar memberikan, sehingga bayi terbiasa. Bayi bisa mengenali aroma tubuh Ibu sehingga jika Ibu yang memberikan ia suka menolak (tentu saja dia memilih menyusu langsung)
- Keluhan yang lazim muncul adalah kemungkinan bayi menolak ASIP yang diberikan melalui sendok atau cangkir. Hal ini wajar terjadi pada hari-hari pertama pemberian ASIP. Buah hati Ibu bisa cemas dan gelisah. Namun, janganlah khawatir, 3 atau 4 hari setelahnya bayi akan terbiasa. Itu sebabnya, sebelum masa cuti berakhir bayi perlu dilatih disuapi susu dengan sendok atau cangkir. Jadi, dengan sedikit belajar dan ketelatenan Ibu tidak perlu khawatir lagi kembali bekerja.
- Video pemberian ASIP melalui cangkir dapat dilihat disini
Perlu juga Ibu ingat, kesuksesan
pemberian ASIP selama Ibu bekerja juga ditentukan oleh kerjasama dengan
pengasuh. Hal ini tidaklah mudah apalagi yang ibu percayai merawatnya
adalah orangtua sendiri atau mertua. Untuk mempermudah kerjasama ini,
langkah pertama harus ada pemahaman yang sama mengenai pemberian dan
manfaat ASI eksklusif. Hal ini bisa jadi sedikit menyulitkan jika
pengalaman mereka dulu mungkin menyusui sambil dicampur susu atau
makanan padat. Ibu bisa pelan-pelan menjelaskan pada ibu atau ibu mertua
tentang pentingnya ASI eksklusif, resiko pemberian sufor dan suplemen
khususnya pada 6 bulan pertama, dan lain-lain. Semakin dini edukasi
diberikan semakin baik (misal sejak Ibu positif hamil). Kerjasama yang
baik antara orangtua dengan pengasuh di rumah (siapapun dia) juga
menentukan keberhasilan menyusui secara eksklusif.
Gambar 4. Cara pemberian ASIP dengan cup feeder
Macam Lochea dan Pengertiannya dan Penjelasannya
Macam Lochea dan Pengertiannya dan Penjelasannya
Sesuai judul, kali ini kita akan membahas mengenai jenis aneka macam
Lochea. Bagi orang yang menggeluti profesi atau pekerjaan di dunia
medis, seperti kedokteran, kebidanan dan keperawatan tentu tidak asing
lagi dengan istilah Lochea. Berdasarkan informasi yang diambil dari
situs tutorialkuliah.blogspot.co.id, Lochea merupakan cairan secret yang
berasal dari cavum uteri selama masa nifas.
Dari sumber informasi yang sama juga
dijelaskan Lochea terdiri atas beberapa macam yang dibedakan menurut
warnanya. Di awal masa pemulihan, biasanya Lochea yang keluar berwarna
merah terang kemudian berubah menjadi merah tua atau coklat
kemerah-merahan. Kemungkinan hal tersebut berisi sedikit
gumpalan-gumpalan atau bekuan-bekuan. Selain itu, Lochea hanya untuk
menunjukkan pemulihan uterin.
Jenis Lochea pada Masa Nifas
Agar lebih jelas, pada kesempatan kali ini akan diberikan informasi
mengenai jenis-jenis atau macam-macam dari Lochea. Inilah, beberapa
jenis Louchea yang dikutip dari situs
blogmakalahkesehatan.blogspot.co.id. Adapun beberapa diantaranya adalah
sebagai berikut : [2]
1. Lochea Rubra atau Cruenta
Lochea jenis ini terdiri atas darah segar sisa-sisa selaput ketuban,
vernix, sel-sel desidua, lanugo, meconium dan caseose. Biasanya, Lochea
Rubra atau Cruenta akan terjadi selama 2 hari pasca proses persalinan.
2. Lochea Sanguinolenta
Berikutnya adalah Lochea Sanguinolenta yang merupakan lanjutan dari
Rubra atau Cruenta. Lochea jenis ini mempunyai warna kuning yang terdiri
dari darah dan lendir. Biasanya, akan terjadi selama hari ke tiga
hingga hari ke tujuh pasca prose persalinan.
3. Lochea Serosa
Lochea Serosa biasanya akan keluar pada hari ke tujuh hingga hari ke
empat belas pasca proses persalinan. Lochea Serosa mempunyai warna
kuning tetapi sudah tidak terdapat kandungan darah lagi di dalamnya.
4. Lochea Alba
Lochea Alba terdiri dari cairan putih yang biasanya akan keluar 2 minggu
setelah pasca persalinan. Dengan keluarnya Lochea Alba, menandakan
bahwa masa nifas seorang wanita yang sudah melahirkan akan segera
berakhir.
5. Lochea Parulenta
Lochea Parulenta ditandai dengan keluarnya cairan seperti nanah dan
berbau busuk. Biasanya, hal ini terjadi karena adanya infeksi sehingga
bila mengalami Lochea Parulenta harus segera memeriksakan diri ke
dokter.
6. Lochiotosis
Lochiotosis merupakan nama yang sering digunakan oleh tim medis ketika Lochea tidak keluar dengan lancar.
Itulah sedikit informasi yang dapat penulis sampaikan pada kesempatan
kali ini. Sebagai bahan evaluasi, pada artikel ini telah dijelaskan
informasi seputar Lochea, mulai dari pengertian, macam atau jenis Lochea
hingga ciri-cirinya. Lochea merupakan hal yang wajar keluar saat masa
nifas setelah proses persalinan. Namun, jika kondisi tersebut dirasa
mengkhawatirkan seperti keluar cairan seperti nanah dan berbau busuk
(Lochea Parulenta) segera periksakan kondisi tersebut kepada dokter
untuk mengetahui apakah ada infeksi di dalam rahim dan untuk mendeteksi
masalah lainnya.
Nah, itulah tadi beberapa aneka macam Lochea. Kalau ada kesalahan
ataupun kekurangan dalam artikel tersebut kami mohon minta maaf. Terima
kasih karena sudah membaca artikel di situs kami dan semoga infonya tadi
bisa bermanfaat!
Langganan:
Postingan (Atom)