Perubahan Fisiologis Kehamilan Trimester I

Perubahan-perubahan Fisiologis Kehamilan Trimester I
Kehamilan mempengaruhi tubuh wanita secara keseluruhan dengan
menimbulkan perubahan fisiologis yang pada hakekatnya terjadi di seluruh
sistem organ. Tubuh seorang wanita hamil harus:
– Melindungi embrio/janin yang sedang berkembang
– Memberikan semua yang diperlukan embrio/janin
– Beradaptasi untuk menyediakan tempat bagi pertumbuhan embrio/janin
– Mempersiapkan pemberian makanannya ketika janin lahir
Sebagian besar perubahan pada tubuh seorang wanita hamil bersifat
temporer dan kebanyakan dipengaruhi oleh kerja hormonal (Helen, 2001)
Beberapa perubahan fisiologis yang timbul selama masa hamil dikenal
sebagai tanda kehamilan. Ada tiga kategori yaitu presumsi, kemungkinan,
dan pasti. Presumsi yaitu perubahan yang dirasakan wanita hamil
(misalnya amenore, keletihan, perubahan payudara). Kemungkinan yaitu
perubahan yang diobservasi pemeriksa (misalnya tanda Hegar, ballottement, tes kehamilan. Pasti misalnya ultrasonografi, bunyi denyut jantung janin (Bobak, dkk., 2005).
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, kehamilan akan mempengaruhi
sistem-sistem organ pada tubuh. Berikut akan dijelaskan
perubahan-perubahan pada sistem organ wanita hamil khususnya pada
trimester I:
1. Sistem endokrin
Selama minggu-minggu pertama, korpus luteum dalam ovarium
menghasilkan estrogen dan progesteron. Fungsi utamanya pada stadium ini
adalah untuk mempertahankan pertumbuhan desidua dan mencegah pelepasan
serta pembebasan desidua tersebut.
2. Sistem reproduksi
Tidak diragukan lagi organ-organ pada sistem reproduksi mengalami
perubahan dalam masa hamil. Mulai dari uterus, vagina, ovarium, dan
lain-lain.
1) Uterus
Pertumbuhan uterus yang fenomenal pada trimester pertama berlanjut
sebagai respon terhadap stimulus kadar hormon estrogen dan progesteron
yang tinggi. Pembesaran terjadi akibat:
– peningkatan vaskularisasi dan dilatasi pembuluh darah
– hiperpalsia (produksi serabut otot dan jaringan
fibroelastis baru) dan hipertrofi (pembesaran serabut otot dan jaringan
fibroelastis yang sudah ada)
– perkembangan desidua
Selain bertambah besar uterus juga mengalami perubahan berat,
bentuk, dan posisi. Dinding-dinding otot menguat dan menjadi lebih
elastis. Pada saat konsepsi, uteris berbentuk seperti buah pir terbalik
Selama minggu-minggu awal kehamilan, peningkatan aliran darah
uterus dan limfe mengakibatkan edema dan kongesti panggul. Akibatnya,
uterus, serviks, dan istmus melunak secara progresif dan serviks menjadi
agak kebiruan (tanda Chadwick, tanda kemungkinan kehamilan). Pada
sekitar minggu ke-7 dan ke-8, terlihat pola pelunakan uterus sebagai
berikut: istmus melunak dan dapat ditekan (tanda Hegar), serviks melunak
(tanda Goodell), dan fundus pada serviks mudah fleksi (tanda McDonald).
Ini adalah tanda kemungkinan kehamilan. Setelah minggu ke-8, korpus
uteri dan serviks melunak dan membesar secara keseluruhan (Bobak, dkk.,
2005)
2) Vagina
Pada awal kehamilan, vagina dan serviks memiliki warna yang hampir
biru (normalnya, warna bagian ini pada wanita yang tidak hamil adalah
merah muda). Warna kebiruan ini disebabkan oleh dilatasi vena yang
terjadi akibat kerja hormon progesteron. Sekresi vagina yang normalnya
bersifat asam meningkat secara bermakna (Helen, 2001).
Peningkatan keasaman (pH) mengakibatkan wanita hamil lebih rentan
terkena infeksi vagina, khususnya infeksi jamur. Diet yang mengandung
gula dalam jumlah besar dapat membuat lingkungan vagina cocok untuk
infeksi jamur (Bobak, dkk., 2005)
Stimulasi estrogen menyebabkan deskuamasi (eksfoliasi) sel-sel
vagina yang kaya glikogen. Sel-sel yang tanggal ini membentuk rabas
vagina yang kental dan berwarna keputihan, disebut leukore (Bobak, dkk.,
2005)
3) Payudara
Perubahan pada payudara yang membawa kepada fungsi laktasi
disebabkan oleh peningkatan kadar estrogen, progesteron, laktogen
plasental, dan prolaktin. Stimulasi hormonal ini menimbulkan proliferasi
jaringan, dilatasi pembuluh darah dan perubahan sekretorik pada
payudara. Sedikit pembesaran pada payudara, peningkatan sensitivitas dan
rasa geli mungkin dialami, khususnya oleh primigravida, pada kehamilan
minggu ke-4 (Helen, 2001).
Sensitivitas payudara bervariasi dari rasa geli ringan sampai nyeri
yang tajam. Puting susu dan areola menjadi lebih berpigmen, terbentuk
warna merah muda sekunder pada areola, dan puting susu menjadi lebih
erektil. Hipertrofi kelenjar sebasea yang muncul di areola primer dan
disebut tuberkel Montgomery dapat terlihat di sekitar puting susu.
Kelenjar sebasea ini mempunyai peran protektif sebagai pelumas puting
susu. Kelembutan puting susu terganggu, jika lemak pelindung ini dicuci
dengan sabun (Bobak, dkk., 2005).
Peningkatan suplai darah membuat pembuluh darah di bawah kulit
berdilatasi. Pembuluh darah yang sebelumnya tidak terlihat, sekarang
terlihat, seringkali tampak sebagai jalinan jaringan biru di bawah
permukaan kulit. Kongesti vena di payudara lebih jelas terlihat pada
primigravida (Bobak, dkk., 2005)
3. Sistem kardiovaskuler
Penyesuaian maternal terhadap kehamilan melibatkan perubahan sistem
kardiovaskuler yang ekstensif, baik aspek anatomis maupun fisiologis.
Adaptasi kardiovaskuler melindungi fungsi fisiologi normal wanita,
memenuhi kebutuhan metabolik tubuh saat hamil, dan menyediakan kebutuhan
untuk perkembangan dan pertumbuhan janin.
Adaptasi kehamilan pada sistem kardiovaskuler meliputi hemodilusi, tekanan darah, dan daya pembekuan darah (Helen, 2001).
1) Hemodilusi
Volume darah selama kehamilan akan meningkat sebanyak 40-50% untuk
memenuhi kebutuhan bagi sirkulasi plasenta. Peningkatan volume mulai
terjadi pada sekitar minggu ke-10 sampai ke-12. Peningkatan volume
merupakan mekanisme protektif. Keadaan ini sangat penting untuk siistem
vaskular yang mengalami hipertrofi akibat pembesaran uterus, hidrasi
jaringan janin dan ibu yang adekuat saat berdiri atau terlentang, dan
cadangan cairan untuk mengganti darah yang hilang selama proses
melahirkan dan puerperium (Bobak, dkk., 2005).
Volume plasma meningkat lebih banyak daripada volume sel darah
merah. Karena itu, terjadi keadaan hemodilusi dengan penurunan kadar
hemoglobin yang menyolok. Keadaan ini disebut anemia fisiologis
kehamilan dan mungkin menyebabkan keluhan mudah lelah serta perasaan
akan pingsan seperti yang dialami sebagian wanita hamil (Helen, 2001).
2) Tekanan darah
Peningkatan curah jantung terjadi akibat peningkatan volume darah.
Jantung harus memompa dengan kekuatan yang lebih besar, khususnya pada
saat menjelang aterm, sehingga terjadi sedikit dilatasi. Progesteron
akan menimbulkan relaksasi otot-otot polos dan menyebabkan dilatasi
dinding pembuluh darah yang akan mengimbangi peningkatan kekuatan dari
jantung. Dengan demikian, tekanan darah harus mendekati nilai pada
keadaan tidak hamil. Walau demikian, seorang wanita hamil cenderung
mengalami hipotensi supinasio jika berbaring terlentang, karen vena kava
inferior akan tertekan oleh isi uterus (Helen, 2001).
3) Daya pembekuan darah
Daya pembekuan darah atau koagubilitas mengalami peningkatan selama
kehamilan. Hal ini dapat berakibat terjadinya trombosis vena. Jika
koagubilitas ini tidak berhasil ditingkatkan, maka pada saat melahirkan
akan terdapat ancaman perdarahan yang hebat (Helen, 2001).
4. Sistem integumen
Kelenjar hipofise anterior yang dirangsang oleh kadar estrogen yang tinggi akan meningkatkan sekresi hormon MSH (Melanophore Stimulating Hormone).
Akibat yang ditimbulkan oleh peningkatan kadar MSH bervariasi menurut
warna kulit alami wanita tersebut. Pigmentasi yang lebih gelap terjadi
pada wajah (kloasma), garis tengah abdomen (dari bagian atas umbilikus
hingga rambut pubis: linea nigra), puting dan areola mammae (Helen,
2001)
5. Sistem pernafasan
Adaptasi ventilasi dan struktural selama masa hamil bertujuan
menyediakan kebutuhan oksigen ibu dan janin. Kebutuhan oksigen ibu
meningkat sebagai respon terhadap percepatan laju metabolik dan
peningkatan kebutuhan oksigen uterus dan payudara. Janin memerlukan
oksigen dan suatu cara membuang karbondioksida.
Uterus yang membesar akan mendorong diafragma ke atas sehingga
mengubah bentuk toraks namun tidak mengurangi kapasitas paru. Frekuensi
respirasi meningkat untuk mendapatkan lebih banyak oksigen yang
diperlukan. Keadaan ini dapat menimbulkan sedikit hiperventilasi.
Selama masa hamil, perubahan pada pusat pernafasan menyebabkan
penurunan ambang karbondioksida. Progesteron dan estrogen diduga
menyebabkan peningkatan sensitivitas pusat pernafasan terhadap
karbondioksida. Beberapa wanita mengeluh mengalami dispnea saat
istirahat.
6. Sistem perkemihan
Perubahan pada traktus urinarius disebabkan oleh faktor hormonal
dan mekanis. Dengan pembesaran yang terjadi pada bulan-bulan pertama
kehamilan, uterus akan lebih banyak menyita tempat dalam panggul. Dengan
demikian, tempat bagi pembesaran kandung kemih akan berkurang dan
tekanan pada kandung kemih semakin sering dirasakan. Hal tersebut
menyebabkan meningkatnya frekuensi berkemih (Helen, 2001).
7. Sistem pencernaan
Pada bulan-bulan awal masa kehamilan, sepertiga dari wanita hamil
mengalami mual dan muntah. Penyebab yang pasti tidak diketahui, tetapi
kemungkinan besar keadaan ini merupakan reaksi terhadap peningkatan
kadar hormon yang mendadak. Jika berlangsung melebihi 14 minggu atau
bila berat (hiperemesis), maka keadaan ini dianggap abnormal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar