Jumat, 21 Oktober 2016

Tanda-tanda Bahaya Pada Masa Nifas Yang Wajib Diketahui

Tanda-tanda Bahaya Pada Masa Nifas Yang Wajib Diketahui 

 

Tanda-tanda Bahaya Pada Masa Nifas (Masa Setelah Melahirkan) Yang Wajib Diketahui

Apa yang dimaksud dengan masa nifas?


Masa nifas adalah masa setelah melahirkan bagi seorang ibu. Seperti yang telah dijelaskan pada artikel sebelumnya yaitu tentang Tahapan Dan Periode Masa Nifas Yang Dialami Oleh Ibu Melahirkan, masa nifas disebut sebagai periode penyesuaian setelah melahirkan selama sistem reproduksi ibu kembali ke keadaan pra-hamil/normal. Hal ini biasanya berlangsung selama 42-49 hari (6-7 minggu) setelah melahirkan, dan berakhir dengan ditandainya ovulasi pertama dan kembalinya menstruasi normal.
Nah, kali ini kita akan membahas tentang tanda-tanda bahaya pada masa nifas. Tanda-tanda bahaya pada masa nifas atau komplikasi masa nifas adalah sesuatu hal yang wajib diwaspadai oleh setiap ibu yang baru selesai melahirkan.
Beberapa wanita setelah melahirkan secara fisik akan merasakan ketidaknyamanan terutama pada 6 minggu pertama setelah melahirkan diantaranya mengalami beragam rasa sakit, nyeri, dan gejala tidak menyenangkan lainnya adalah wajar dan jarang merupakan tanda adanya sebuah masalah. Namun tetap saja, semua ibu yang baru melahirkan perlu menyadari gejala-gejala yang mungkin merujuk pada komplikasi pasca persalinan. 

Gejala atau tanda bahaya yang harus diwaspadai 


Gejala-gejala atau tanda yang harus diperhatikan dan diwaspadai oleh ibu yang baru selesai melahirkan diantaranya adalah:

1. Perdarahan setelah melahirkan

Dengan tanda dan gejala secara umum sebagai berikut :
Perdarahan yang membutuhkan lebih dari satu pembalut dalam waktu satu atau dua jam, sejumlah besar perdarahan berwarna merah terang tiap saat setelah minggu pertama pasca persalinan. Perdarahan  normal setelah melahirkan adalah perdarahan lebih dari 500-600 ml dalam masa 24 jam setelah anak lahir. Menurut waktu terjadinya dibagi atas dua bagian yaitu: Perdarahan primer yang terjadi dalam 24 jam setelah anak lahir dan perdarahan setelah melahirkan sekunder yang terjadi setelah 24 jam, biasanya antara hari ke-5 sampai ke-15 setelah melahirkan Hal-hal yang menyebabkan perdarahan postpartum adalah atonia uteri, perlukaan jalan lahir, terlepasnya sebagian ari ari dari rahim, tertinggalnya sebagian dari ari-ari. 
Tanda dan gejala perdarahan setelah melahirkan: 
a. Perdarahan primer, rahim tidak berkontraksi dan lembek, perdarahan segera setelah anak lahir biasanya disebabkan oleh Atonia uteri. 
b. Perdarahan sekunder, darah yang keluar berbau amis dan menyengat biasa disebabkan oleh (Endometritis atau sisa ari-ari) 

Penanganan Umum perdarahan setelah melahirkan:

Segera kunjungi dokter atau bidan apabila darah melebihi 500-600 ml dalam masa 24 jam, rahim terasa tidak berkontraksi atau lembek, darah yang keluar berbau menyengat.

2. Suhu Tubuh Meningkat

Suhu tubuh meningkat setelah 24 jam setelah melahirkan. Suhu tubuh mencapai 40-41 derajat celcius pada hari ke 3 setelah melahirkan. Panas badan mungkin dialami pada hari pertama setelah melahirkan, itu wajar akibat dari dehidrasi selama proses persalinan, suhu normal 37-38 derajat. Usahakan untuk memperbanyak minum air. 
Namun jika setelah 24 jam suhu ibu malah meningkat, maka waspada lah terhadap adanya tanda-tanda infeksi setelah melahirkan. Sehingga ibu wajib menghubungi bidan atau dokter yang menangani.

3. Sakit Kepala & Pengelihatan Kabur

Jika hal ini terjadi, maka perlu dilakukan pemeriksaan. Segera ajak ibu ke tenaga medis untuk di lakukan pemeriksaan terhadap tanda-tanda vitalnya. Seperti pernafasan, nadi, tensi dan suhu tubuhnya. 

4. Pembengkakan Wajah

Jika terjadi hal ini, maka lakukan pemeriksaan segera. Apakah ada varices, apakah ada pembengkakan pada kaki dan kemerahan. Jika ada, maka segera kunjungi bidan, dokter, atau tenaga kesehatan terdekat.

5. Subinvolusi Uterus 

Dengan tanda dan gejala secara umum sebagai berikut: 
a) Darah setelah melahirkan yang baunya sangat tidak enak, seharusnya baunya sama seperti saat menstruasi. 
b) Gumpalan darah yang banyak atau besar (seukuran jeruk limau atau lebih besar) dalam lokhia. Subinvolusi uterus adalah proses involusi rahim (pengecilan rahim) tidak berjalan sesuai sebagaimana mestinya, sehingga proses pengecilan terlambat.

6. Tromboflebitis & Emboli Paru 

Dengan tanda dan gejala secara umum sebagai berikut: 
a) Rasa sakit hingga ke dada, yang bisa merupakan indikasi gumpalan darah pada paru-paru (jangan dikacaukan dengan rasa nyeri dada yang biasanya akibat mengejan terlalu kuat). 
b) Rasa sakit di tempat tertentu, lemah dan hangat di betis atau paha dengan atau tanpa adanya tanda merah, bengkak dan nyeri ketika menggerakkan kaki, yang bisa merupakan tanda gumpalan darah pada saluran darah di kaki. 

7. Depresi Setelah Persalinan

Dengan tanda dan gejala secara umum sebagai berikut: 
Depresi yang mempengaruhi kemampuan untuk mengatasi, atau yang tidak mereda setelah beberapa hari, perasaan marah pada bayi terutama jika perasaan itu dibarengi dengan keinginan buruk. Periode masa nifas merupakan waktu dimana ibu mengalami stres pasca persalinan, terutama pada ibu yang baru pertama kali melahirkan. 
Tanda dan gejala yang mungkin diperlihatkan pada penderita depresi postpartum adalah: 
- Perasaan sedih dan kecewa, sering menangis, merasa gelisah dan cemas, kehilangan ketertarikan terhadap hal-hal yang menyenangkan, nafsu makan menurun, kehilangan energi dan motivasi untuk melakukan sesuatu, tidak bisa tidur (insomnia).
Depresi setelah melahirkan dianggap bahaya karena mungkin ibu akan mengabaikan si bayi. Maka wajib diwaspadai, dan segera ajak ibu ke tenaga kesehatan bidan atau dokter untuk diberikan konseling dan penjelasan agar ibu tidak mengalami depresi.
Demikian pengetahuan penting tentang tanda bahaya pada masa nifas (masa setelah melahirkan) yang wajib untuk diketahui oleh para ibu dan pasangannya. 
Semoga Bermanfaat!

PENGERTIAN DAN MACAM MACAM ABORTUS

PENGERTIAN DAN MACAM MACAM ABORTUS




ABORTUS
APA ITU ABORTUS ?
Abortus/aborsi adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan dengan berat badan janin <500 gram dan usia kandungan < 20 minggu. Usia kehamilan yang cukup bulan/aterm adalah 37-40 minggu.
APA TANDA-TANDA TERJADINYA ABORTUS ?
Tanda-tanda terjadinya abortus pada umumnya adalah:
  1. Terjadi kontraksi uterus/rahim
  2. Terjadi perdarahan uterus/rahim
  3. Dilatasi serviks (pelebaran mulut rahim)
  4. Ditemukan sebagian atau seluruh hasil konsepsi/pembuahan
Pada kehamilan, janin menempel di endometrium (dinding uterus/rahim bagian dalam). Untuk itu, endometrium harus tebal karena jika tipis maka janin tidak bisa menempel di endometrium dengan sempurna. Tebal / tipisnya endometrium dipengaruhi oleh hormon progesteron. Semakin banyak hormon progesteron, maka endometrium akan semakin tebal sehingga janin bisa menempel dengan sempurna. Sebaliknya semakin sedikit hormon progesteron, maka endometrium akan semakin tipis sehingga janin kurang menempel dan akan terjadi keguguran/abortus. Oleh karena itu disimpulkan bahwa salah satu penyebab terjadinya abortus/keguguran adalah kurangnya hormon progesteron.
 
APA SAJA KLASIFIKASI ABORTUS ?
Abortus diklasifikasikan menjadi 3, yaitu:
  1. Abortus Spontan
adalah pengakhiran kehamilan sebelum 20 minggu yang berlangsung tanpa tindakan / tanpa disengaja.
  1. Abortus Buatan
adalah pengakhiran kehamilan sebelum 20 minggu akibat tindakan yang disengaja.
  1. Abortus Terapeutik
adalah abortus buatan yang dilakukan pada kehamilan sebelum 20 minggu atas indikasi tindakan medis.
APA SAJA PENYEBAB ABORTUS SPONTAN ?
Abortus spontan dapat disebabkan oleh:
- Kurangnya hormon progesteron
- Kelainan kromosom
- Infeksi (chlamydia, mycoplasma, dll)
- Gangguan endokrin/hormon (hipotiroidisme, diabetes mellitus)
- Oksidan (rokok, alkohol, radiasi, dan toksin), dll
APA SAJA MACAM-MACAM ABORTUS SPONTAN ?
1. ABORTUS IMMINENS
Abortus imminens adalah ancaman terjadinya abortus, ditandai perdarahan per vaginam(lewat vagina), ostium uteri masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik dalam kandungan.
2. ABORTUS INSIPIENS
Abortus insipiens adalah abortus yang sedang mengancam yang ditandai dengan serviks telah mendatar, ostium uteri telah membuka, akan tetapi hasil konsepsi masih dalam kavum uteri dan dalam proses pengeluaran.
Ciri : Perdarahan per vaginam dengan kontraksi makin lama makin kuat dan makin sering, serviks sudah terbuka.
3. ABORTUS INKOMPLETUS
Abortus inkompletus adalah peristiwa pengeluaran sebagian hasil konsepsi sebelum usia kehamilan 20 minggu, berat janin < 500 gram
Ciri : Perdarahan per vaginam yang banyak, disertai kontraksi, serviks terbuka, sebagian jaringan konsepsi keluar.
Penanganan : optimalisasi keadaan umum dan tanda vital ibu (perdarahan banyak dapat menyebabkan syok), pengeluaran seluruh jaringan konsepsi dengan eksplorasi digital dan bila perlu dilakukan kuretase.
4. ABORTUS KOMPLETUS
Abortus kompletus adalah peristiwa pengeluaran lengkap seluruh jaringan hasil konsepsi sebelum usia kehamilan 20 minggu, berat janin < 500 gram.
Ciri : Perdarahan per vaginam yang banyak, kontraksi uterus, serviks sudah menutup, keluar jaringan hasil konsepsi, tidak ada sisa jaringan di dalam uterus.
Penanganan : optimalisasi keadaan umum dan tanda vital ibu.
5. ABORTUS HABITUALIS
Abortus habitualis adalah kejadian abortus berulang pada 3 kehamilan atau lebih berturut - turut. Abortus habitualis umumnya disebabkan karena kelainan anatomik uterus (mioma, septum, serviks inkompeten, dll), atau kelainan faktor-faktor imunologi. Pada kasus abortus habitualis perlu dilakukan pemeriksaan USG untuk melihat ada/tidaknya kelainan anatomi. Selain itu juga perlu dilakukan rangkaian pemeriksaan faktor-faktor hormonal / imunologi / kromosom.
6. MISSED ABORTION
Missed abortion adalah embrio/fetus meninggal dalam kandungan dan masih tertahan dalam kandungan. Biasanya didahului tanda dan gejala abortus imminens yang kemudian menghilang spontan atau menghilang setelah pengobatan.
Penanganan : mengeluarkan jaringan konsepsi dengan stimulasi kontraksi uterus. Jika dilakukan tindakan kuretase, maka harus sangat hati-hati karena jaringan telah mengeras, dan dapat terjadi gangguan pembekuan darah akibat komplikasi kelainan koagulasi (hipofibrinogenemia).
APA PENGERTIAN ABORTUS TERAPEUTIK ?
Abortus terapeutik adalah abortus buatan yang dilakukan atas indikasi tindakan medis dilakukan. Abortus terapeutik dilakukan pada usia kehamilan kurang dari 12 minggu, atas pertimbangan / indikasi kesehatan wanita dimana bila kehamilan itu dilanjutkan akan membahayakan dirinya, misalnya pada wanita dengan penyakit jantung, hipertensi, penyakit ginjal, dll. Dapat juga dilakukan atas pertimbangan / indikasi kelainan janin yang berat.
BAGAIMANA PENANGANAN TERHADAP ANCAMAN ABORTUS?
Dokter sering menganjurkan tirah baring dan pemberian progesteron pada wanita hamil yang mengalami ancaman abortus tetapi bukti ilmiah untuk manajemen ini masih jarang.
TIRAH BARING
Meskipun tidak ada bukti pasti bahwa tirah baring dapat mempengaruhi kehamilan, istirahat dari aktivitas selama beberapa hari dapat membantu wanita merasa aman, juga memberikan efek psikologis.
PROGESTERON
Progesteron diberikan pada 13 – 40% wanita dengan ancaman abortus. Progesteron merupakan produk utama dari corpus luteum (bagian dari indung telur) dan pemberian prostagen diharapkan dapat membantu corpus luteum dalam memproduksi progesteron dan menginduksi relaksasi rahim yang sedang mengalami kontraksi. Dalam sebuah studi kecil, pemberian progesteron dapat mengurangi kram pada rahim secara subjektif lebih cepat dibandingkan dengan tirah baring saja.
DLL
 Hasil gambar untuk gambar abortus

Perubahan Saat Menopause

7 Perubahan Saat Menopause 

 1. Kulit mengerut
Kering dan kehilangan elastisitas akan dialami. Kadang-kadang disertai formikasi, yaitu sensasi atau rasa pada kulit seperti dirambati semut. Ini merupakan dampak langsung dari berkurangnya oestrogen. Perubahan kondisi kulit ini  merupakan akibat ketidakseimbangan hormon oestrogen dan testosteron. Wanita yang peka dengan hormon testosteronnya sendiri akan mengalami kerontokan rambut di kepala, sementara rambut-rambut halus muncul di badan, juga muncul jerawat.
Bisa dibantu dengan pemberian pelembap. Bagi Anda yang merokok disarankan untuk berhenti merokok agar kulit tidak semakin kering dan keriput.

2. Kaku dan sakit
Bila Anda selama ini mengira hot flushes adalah gejala utama menopause, tidak selalu benar. Sendi kaku dan sakit lebih sering terjadi ketimbang hot flushes. Mungkin Anda sempat mengira olah raga lari, jalan cepat atau angkat beban sudah terlalu berat untuk tubuh Anda.
Bisa dibantu dengan menambahkan minyak ikan dalam menu harian Anda sebagai suplemen. Olah raga masih tetap boleh dilakukan.

3. Rasa terbakar
Berhubungan seks tak lagi menyenangkan, karena ada rasa seperti terbakar sebelum dan sesudahnya. Padahal berhubungan seks di masa ini lebih bebas karena Anda tak perlu takut hamil. Tetapi berkurangnya hormon oestrogen mengakibatkan penipisan pada jaringan vagina, sehingga hubungan seksual menimbulkan rasa panas, dan orgasme pun sulit dicapai.
Bisa dibantu dengan pelumas. Selain itu, lakukan latihan untuk memperkuat otot-otot panggul untuk memperbaiki kehidupan seksual Anda.

4. Mendengkur seperti cowok
Mendengkur lazim dialami wanita di usia tertentu sebagai sleep apnoea, yaitu terhalangnya saluran napas beberapa kali dalam satu jam selama Anda tidur. Meski mendengkur bukan serta merta akibat menopause, tetapi peningkatan berat badan mengakibatkan melemahnya otot penghubung saluran napas.
Bisa dibantu dengan mengubah posisi tidur. Bila tidur dalam posisi telentang membuat Anda mendengkur, ubah posisi tidur Anda dengan miring. Bila suami Anda mengatakan bahwa Anda sempat berhenti bernapas, atau Anda bangun setiap pagi dengan rasa letih, segeralah ke dokter.

5. Makan banyak seperti ABG
Tidak berhenti makan, dan sering nyamil seperti anak baru gede merupakan efek samping menopause. Penyebabnya fisik dan emosi. Perubahan nafsu makan saat menopause bisa seperti saat premenstrual syndrome. Bila Anda ‘ngidam’ makanan yang manis-manis, pertanda Anda mengalami resistensi insulin yang  terjadi karena meningkatnya berat badan. Akibat sleep apnoea dan lelah karena tidur tidak nyenyak, makan dalam jumlah banyak merupakan jalan pintas untuk memperoleh tenaga.
Bisa dibantu dengan makan sedikit-sedikit sepanjang hari untuk menghindari makanan yang manis-manis di malam hari.   Konsumsi buah-buahan dengan kadar gula rendah, roti dengan glikemik indeks yang rendah dipadu dengan protein atau yogurt untuk menjaga kadar gula darah dan nafsu makan tetap stabil. Menopause datang bersamaan dengan turunnya metabolism tubuh sehingga olah raga teratur dan mengatur pola makan sangat penting.

6. Lidah terasa panas

Disebut Burning Mouth Syndrome (BMS), dan bisa dialami oleh siapa saja tetapi sangat khas terjadi setelah menopause. BMS menghasilkan rasa panas di rongga mulut. Penyebabnya belum diketahui pasti, tetapi ada ahli yang mengatakan bahwa terjadinya perubahan hormon berdampak pada serat-serat syaraf kecil di mulut. Hal ini dialami 1 dari 3 wanita yang sudah menopause meski mereka tidak mengalami masalah dengan gigi dan gusi. Masalah lain pada mulut adalah mulut kering, dan gigi goyah.
Bisa dibantu dengan memenuhi kebutuhan kalsium dan vitamin D untuk menjaga kekuatan gigi dan tulang. Ada cara untuk mengatasi BMS, tetapi yang paling penting adalah Anda harus menghindari minuman beralkohol, tembakau, obat kumur yang mengandung alkohol, dan makanan pedas.

7. Kehilangan banyak perbendaharaan kata
Lupa syair lagu favorit? Lupa nama tetangga sebelah rumah? Jangan cemas, karena Anda bukan satu-satunya yang mengalami ini. Ada hubungan yang erat antara menopause dengan daya ingat dan konsentrasi. Anda akan sering kehilangan kata-kata saat bicara atau menjadi kurang gesit. Ini hanya sementara.
Bisa dibantu dengan olah raga teratur dan cukup tidur. Kedua hal ini dapat mengembalikan daya ingat Anda.
Hasil gambar untuk gambar saat menopause 

Perubahan Kondisi Wanita Pada Saat Menstruasi

Perubahan Kondisi Wanita Pada Saat Menstruasi

 Menstruasi adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi baik FSH-Estrogen atau LH-Progesteron. Periode ini penting dalam hal reproduksi.


Saat menstruasi, wanita akan mengalami pendarahan dari vagina selama kira-kira 2-7 hari dengan volume darah rata-rata sekitar 40mililiter. Tetapi ada juga sebagian wanita yang mengeluarkan darah yang lebih banyak. Volume pendarahan terbanyak selama menstruasi biasanya terjadi pada hari pertama dan kedua.

Dalam siklus menstruasi, perubahan kadar hormon di dalam tubuh wanita akan terjadi, khususnya pada masa sebelum menstruasi. Berubahnya jumlah hormon dapat menyebabkan dampak pada fisik dan emosi yang terkadang dapat muncul berhari-hari sebelum menstruasi. Gejala ini disebut sindrom prahaid (PMS).
Perubahan fisik yang biasanya muncul sebelum menstruasi.
  • Lemas dan lelah.
  • Sakit kepala.
  • Perut kembung dan mual.
  • Payudara yang membesar dan terasa nyeri.
  • Kenaikan berat badan.
  • Nyeri pada otot, sendi, punggung, serta perut bagian bawah.
  • Berkurangnya gairah seks.
  • Perubahan pada nafsu makan.
  • Diare atau konstipasi.
Perubahan emosi yang bisa terjadi pada saat wanita mengalami sindrom prahaid.
  • Merasa sedih atau depresi.
  • Sering uring-uringan.
  • Suasana hati yang tidak stabil.
  • Sulit berkonsentrasi.
  • Mudah menangis.
  • Kecemasan berlebihan.
  • Linglung dan pelupa.
  • Turunnya rasa percaya diri.

Beberapa gejala tersebut akan berkurang saat menstruasi berlangsung dan berakhir beberapa hari setelah menstruasi. Namun gejala lainnya, terutama kenaikan berat badan, harus diatasi dengan mengkonsumsi pola makan sehat dan olahraga secara rutin.
Hasil gambar untuk gambar perempuan saat menstruasi

 

 

 

Angka kematian ibu dan Angka kematian bayi

1 ANGKA KEMATIAN IBU DAN ANGKA KWMATIAN BAYI

a.      Pengertian
Kematian adalah akhir dari kehidupan ketiadaan nyawa dalam organisme biologis. Semua makhluk hidup pada akhirnya akan mati secara permanen, baik karena penyebab alami seperti penyakit atau karena penyebab tidak alami seperti kecelakaan (Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas).
Kematian maternal adalah kematian wanita sewaktu hamil, melahirkan, atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya kehamilan, tidak bergantung dari lama lokasi kehamilan, disebabkan apapun yang berhubungan dengan kehamilan atau penangananya, tetapi tidak secara kebetulan atau oleh penyebab tambahan lainya (Prawirohardjo S, 2002; 22).
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan perempuan. Angka kematian ibu juga merupakan salah satu target yang telah ditentukan dalam tujuan pembangunan millenium yaitu tujuan ke 5 yaitu meningkatkan kesehatan ibu dimana target yang akan dicapai sampai tahun 2015 adalah mengurangi sampai ¾ resiko jumlah kematian ibu. Dari hasil survei yang dilakukan AKI telah menunjukkan penurunan dari waktu ke waktu, namun demikian upaya untuk mewujudkan target tujuan pembangunan millenium masihmembutuhkan komitmen dan usaha keras yang terus menerus.
Di Indonesia, upaya Safe Motherhood diterjemahkan sebagai Upaya Kesejahteraan/Keselamatan Ibu. Istilah ”Kesejahteraan Ibu” menunjukkan ruang lingkup yang lebih luas, meliputi hal-hal diluar kesehatan, sedangan ”Keselamatan Ibu” mempunyai konotasi yang terkait langsung dengan aspek kesehatan. Dibandingkan dengan angka kematian bayi (selanjutnya disingkat AKB), perbedaan AKI ternyata jauh lebih besar. Hasil penelitian WHO dan UNFPA menunjukkan tingginya AKI di berbagai negara berkembang, serta lebarnya jurang antara keadaan di negara berkembang dan keadaan di negara maju. (AKI ) Angka kematian ibu sebagai akibat langsung / tidak langsung dalam 100.000 kelahiran hidup.

b.      Klasifikasi
1.      Direct obstetric deaths, yaitu kematian ibu yang langsung disebabkan oleh komplikasi obstetri pada masa hamil, bersalin dan nifas, atau kematian yang disebabkan oleh suatu tindakan, atau berbagai hal yang terjadi akibat tindakan-tindakan tersebut yang dilakukan selama hamil, bersalin atau nifas. Di negara berkembang, sekitar 95% kematian ibu termasuk dalam kelompok ini.
2.      Indirect obstetric deaths, yaitu kematian ibu yang disebabkan oleh suatu penyakit, yang bukan komplikasi obstetri, yang berkembang atau bertambah berat akibat kehamilan atau persalinan.
c.       Ruang lingkup
a.  Dunia
1)      180-200 juta kehamilan pertahun
2)       75 juta unwanted pregnancy
3)       50 juta kasus induced abortion
4)       20 juta kasus aborsi yang tidak aman
5)       600.000 kematian ibu (1 orang per menit)
6)       1 kematian ibu = 30 kesakitan ibu
b. Indonesia
1)      5 juta kehamilan per tahun
2)       20.000 kehamilan berakhir dengan kematian ibu
3)       AKI tertinggi di ASEAN 373/100.000 kelahiran hidup
4)       (SKRT, 1997)
d.      Penyebab Kematian Ibu :
a)      Langsung
Berhubungan dengan komplikasi obstetrik selama masa kehamilan, persalinan dan masa nifas (post-partum).
Mayoritas penyebab kematian ibu adalah penyebab langsung, seperti :
1.      Perdarahan                  : 45.2 % 
2.       Komplikasi Aborsi     : 11.1 %
3.      Eklamsia                      : 12.9 %
4.       Partus Macet              : 6.5 %
5.      Sepsis Postpartum       : 9.6 %
6.       Anemia                       : 1.6 %
7.      Ketuban pecah dini
8.      Cedera maternal
9.      Kehamilan ganda
10.  Lilitan tali pusat
11.  Kelainan letak lain selama kehamilan dan kelahiran.
b)      Tidak langsung : 14.1 %
Diakibatkan oleh penyakit yang telah diderita ibu, atau penyakit yang timbul selama kehamilan dan tidak ada kaitannya dengan penyebab langsung obstetrik, tapi penyakit tersebut diperberat oleh efek fisiologik kehamilan.
Ada juga yang yang dikenal dengan 3 “terlambat” dan 4 “terlalu”, yang terkait dengan faktor akses, sosial budaya, pendidikan, dan ekonomi. Kasus 3 Terlambat, yaitu:
1.      Terlambat mengenali tanda bahaya persalinan dan mengambil keputusan.
2.      Terlambat dirujuk.
3.      Terlambat ditangani oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.
Berdasarkan Riskesdas 2010, masih cukup banyak ibu hamil dengan faktor risiko 4 Terlalu, yaitu:
1)   Terlalu muda, hamil dan melahirkan. Di zaman ini wanita cepat mengalami menstruasi, selain itu cepat nikah dan hamil sehingga resiko melahirkan tinggi. Secara medis umur dibawah 20 tahun alat produksi belum optimal, sehingga tidak disarankan untuk menikah terlebih dahulu.
2)   Terlalu tua. Usia di atas 35 tahun tidak disarankan untuk hamil karena resikonya tinggi. Dengan bertambahnya usia semakin menurunkan juga kualitasnya, sehingga rentan terhadap meninggalnya si ibu.
3)   Terlalu sering punya anak yang mengakibatkan sering terjadi pendarahan.
4)   Terlalu rapat jarak melahirkan. Belum terlalu pulih melahirkan pertama, melahirkan lagi sehingga punya resiko yang lebih tinggi pula.
Hasil Riskesdas juga menunjukkan bahwa cakupan program kesehatan ibu dan reproduksi umumnya rendah pada ibu-ibu di pedesaan dengan tingkat pendidikan dan ekonomi rendah. Secara umum, posisi perempuan juga masih relatif kurang menguntungkan sebagai pengambil keputusan dalam mencari pertolongan untuk dirinya sendiri dan anaknya. Ada budaya dan kepercayaan di daerah tertentu yang tidak mendukung kesehatan ibu dan anak. Rendahnya tingkat pendidikan dan ekonomi keluarga berpengaruh terhadap masih banyaknya kasus 3 Terlambat dan 4 Terlalu, yang pada akhirnya terkait dengan kematian ibu dan bayi.
ICD-X mendefinisikan beberapa periode berkaitan dengan kehamilan dan
kelahirannya sebagai berikut:
Ø  Masalah Kebidanan Komunitas
1)                              Periode Perinatal
periode antara umur gestasi 22 minggu lengkap (154 hari- usia dimana berat lahir normalnya mencapai 500gram) sampai 7 hari setelah dilahirkan. Dengan demikian yang dimaksud dengan kematian perinatal adalah kematian yang terjadi pada janin ketika usia kehamilan mencapai 22 minggu lengkap sampai pada saat 7 hari setelah dilahirkan.
2)      Periode neonatal
periode mulai saat bayi dilahirkan sampai dengan usia 28 hari. Kematian neonatal (yaitu kematian yang terjadi pada saat bayi baru lahir sampai berumur 28 hari) dapat dibedakan menjadi kematian neonatal dini dan kematian neonatal lanjut. Kematian neonatal dini adalah kematian yang terjadi pada bayi dalam periode 7 hari setelah bayi dilahirkan, sedangkan kematian neonatal lanjut adalah kematian yang terjadi pada bayi berusia 8-28 hari.
2.      Angka Kematian Bayi 
a.   Pengertian
 Angka kematian bayi ( Infrant Mortality Rate) merupakan salah satu indikator penting dalam menentukan tingkat kesehatan masyarakat karena dapat menggambarkan kesehatan penduduk secara umum. Angka ini sangat sensitif terhadap perubahan tingkat kesehatan dan kesejahteraan. Angka kematian bayi tersebut dapat didefenisikan sebagai kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun (BPS). Sedangkan untuk menghitung angka kematian bayi dapat dihitung dengan cara :
            Jumlah  kematian bayi  dibawah umur 1 tahun selama tahun x
AKB =                                                                                                            X 1000
            Jumlah kelahiran selama tahun x
b.               Konsep mati
Konsep mati perlu diketahui guna untuk mendapatkan data kematian yang benar. Dengan kemajuan ilmu kedokteran, kadang – kadang sulit untuk memberikan keadaan mati dan keadaan hidup secara klinik. Menurut konsepnya, terdapat 3 keadaan vital yang masing – masing bersifat mutually exclusive, artinya keadaanyang satu tidak mungkin terjadi bersamaan dengan salah satu keadaan lainnya.
Tiga keadaan vital tersebut ialah :
1. Lahir hidup ( live birth)
Lahir hidup yaitu, peristiwa keluarnya hasil konsepsi dari rahim seorang ibu secara lengkap tanpa memandang lamanya kehamilan dan setelah perpisahan tersebut terjadi, hasil konsepsi bernafas dam mempunyai tanda – tanda kehidupan lainnya, seperti denyut jantung, denyut tali pusat, atau gerakan – gerakan otot, tanpa memandang tali pusat sudah dipotong atau belum (Utomo,Budi. 2007 : 84)
2. Mati (death)
Mati adalah hilangnya semua tanda – tanda kehidupan secara permanen, yang bisa terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup (Utomo,Budi. 2007 : 84).
3. mati (fetal death)
Lahir mati yaitu menghilangnya tanda – tanda kehidupan dari hasil konsepsi sebelum hasil konsepsi tersebut dikeluarkan dari rahim ibunya (Utomo, Budi. 2007 : 84).
Secara garis besar , dari sisi penyebabnya, kematian bayi ada dua macam yaitu endogen dan eksogen. Kematian bayi endogen atau yang dikenal atau yang umum disebut dengan kematian neonatal adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan, dan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir, yang duperoleh dari orang tuanya selama dalam kandungan (Badan Pusat Statistik).
Sedangkan kematian bayi eksogen atau kematian post neo-natal, adalah kematian bayi yang terjadi setelah satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang berhubungan dengan pengaruh lingkungan sekitar (Badan Pusat Statistik).
 Hasil gambar untuk Gambar Aki dan Akb